Pages

4/1/11

Munafik

Pernah ngga sih lo ngerasa yang namanya munafik? Bohong sama diri lo sendiri. Lo bohong ke diri lo sendiri entah karena malu, karena gengsi atau sejuta alasan lain yang menjadi pembenaran mutlak bagi lo saat itu yang akhirnya lo akan menyesalinya sendiri.
Gue.
Gue ngerasain hal itu.. Saat udah ada momen yang tepat, alam semesta udah berkonspirasi supaya hal itu terjadi, saat hal itu akhirnya bisa diucapkan, saat ada yang bertanya, dan jauh di lubuk hati lo berkata "iya" tapi entah kenapa neuron mulut-otak lo ngga nyambung atau sejuta alasan lain yang lo anggap sebagai pembenaran mutlak atas semuanya padahal hanya melintas sepersekian detik di otak, lo bilang "ngga".
Dan sedetik kemudian lo nyesel, berharap lo bisa jilat ludah lo sendiri tapi udah ngga mungkin. Hal itu ngga mungkin datang lagi, alam semesta belum tentu mau berkonspirasi lagi.
Kalo aja saat itu lo bilang "iya", mungkin semuanya jadi lebih baik sekarang.
Kalo aja saat itu lo bisa mengalahkan gengsi lo.
Kalo aja saat itu lo sadar bahwa apa yang lo anggap sebagai kebenaran itu sebenarnya cuma alasan-alasan defensif untuk melindungi gengsi lo yang super agung itu.

Dan itu gue.

Kalo aja gue bisa bilang "iya" saat itu :(

Munafik. Gue munafik.
Gue pengen banget bilang "iya" saat itu.

No comments:

Post a Comment